AFASIA PADA PENGIDAP STROKE

Stroke merupakan salah satu penyakit yang dapat menimbulkan kecatatan bahkan kematian terbanyak di dunia. Jumlah pasien yang mengalami stroke tidaklah sedikit dan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Menurut Riset Kesehatan Dasar (2018), pravelensi pengidap stroke di Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan yaitu dari 7% pada tahun 2013 menjadi 10,9 pada tahun 2018.

            Stroke menimbulkan masalah kesehatan yang bermacam-macam ditentukan dari luas dan  daerah yang mengalami infark. Menurut Sillbernagl dan Lang (2007), manifestasi klinis dari penyakit stroke tergantung dari tempat perfusi yang terganggu. Serebri media merupakan arteri yang paling sering mengalami infark pada pengidap stroke. Gangguan yang terjadi pada arteri serebria media dapat menyebabkan seseorang mengalami afasia.

  1. Pengertian Afasia

Afasia adalah ketidakmampuan seseorang untuk berkomunikasi baik secara lisan, isyarat, maupun melalui tulisan atau ketidakmampuan seseorang untuk berbahasa dengan benar (Gresham et al., 1995). Afasia juga didefinisikan sebagai gangguan dalam berbahasa dan berkomunikasi secara kognitif yang terjadi akibat adanya kerusakan otak lainnya seperti demensia dan traumatic brain injury (Orange & Kertesz), 1998). Umumnya, afasia terjadi apabila terjadi cedera otak, proses patologis stroke, perdarahan otak, serta tumor otak yang terjadi pada bagian frontal, temporal, atau parietal, seperti daerah broca, wrinkle atau jalur yang menghubungkan kedua area tersebut karena area-area tersebut merupakan pusat pengaturan kemampuan berbahasa. Kedua area ini berada di otak bagian kiri (KIrshner, 2009). Otak kiri bagian depan berfungsi dalam kelancaran seseorang untuk mengungkapkan isi pikiran dengan bahasa yang baik, dan otak kiri bagian belakang berperan dalalam memahami bahasa yang didengar dari lawan bicara.

  • Jenis-jenis Afasia
  • Afasia global

Afasia global adalah afasia yang mengalami gangguan pada semua modalitas bahasa yang meliputi kelancaran berbicara, pemahaman bahasa lisan, pengulangan, penamaan, membaca dan menulis. Pengidap afasia global tidak bisa berbicara sama sekali dan tidak mengerti yang dikatakan lawan bicara serta tidak bisa membaca dan menulis.

  • Afasia Broca

Afasia broca juga disebut sebagai afasia motorik, yaitu ketidakmampuan seseorang untuk berbicara, tetapi orang tersebut bisa mengerti apa yang dikatakan oleh lawan bicara dan menjawabnya dengan gerakan tubuh. Pengidap afasia motoric mengalami kesulitan untuk meniru ucapan.

  • Afasia Wernicke

Afasia wernicke atau afasia sensorik, yaitu ketidakmampuan seseorang untuk memahami apa yang dikatakan oleh lawan bicara. Pengidap hanya bisa mengungkapkan isi pikiran, tetapi tidak dapat memahami perkataan lawan bicara. Pengidap juga sulit untuk meniru ucapan.

  • Afasia Konduksi

Afasia konduksi adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengulangi perkataan atau kalimat dari lawan bicara, namun pengidap masih bisa mengungkapkan isi pikiran dan menjawab lawan bicara.

  • Afasia Anomik

Afasia anomik adalah gangguan pada saat penemuan dan penamaan kata yang menyebabkan pengidap tidak bisa menyebutkan nama suatu benda yang terlihat seperti angka, huruf, dan bentuk gambar. Orang tersebut juga tak bisa menyebut nama binatang yang didengar suaranya atau benda yang diraba. Afasia anomik terjadi pada semua pengidap afasia yang memiliki variasi kemampuan.

  • Afasia Transkortikal Sensorik

Afasia transkortikal sensorik memiliki masalah yang mirip dengan afasia wernicke, tetapi pengidap bisa menirukan kata/kalimat lawan bicara

  • Afasia Transkortikal Motoris,

Afasia transkortikal motoris adalah gangguan dalam mengeluarkan isi pikiran, tetapi pengidap bisa mengerti pembicaraan dan meniru ucapan.

  • Afasia Transkortikal Campuran

Afasia ini mirip afasia global, tetapi pengidap masih mampu menirukan perkataan/kalimat dari lawan bicara

  • Cara Berbicara dengan Pengidap Afasia
  • Gunakan kalimat singkat dan jelas agar pengidap dapat mengerti.
  • Jika pengidap mengalami kesulitan untuk memahami sesuatu, jelaskan dengan isyarat atau menggunakan gambar.
  • Jika pasien kesulitan untuk menjawab suatu pertanyaan, coba berikan pertanyaan yang memungkinkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’
  • Penangan pada Afasia
  • Stimulasi Multimodal
  • Intervensi Semantik Divergen
  • Latihan Pemahaman auditif
  • Terapi komunikasi total

Sumber :

Dachrud, M. (2010). Studi Metaanalisis terhadap Intensitas Terapi pada Pemulihan Bahasa Afasia. Jurnal Psikologi, 37(1), 34-49.

Munir, S. (2018). Riskesdas 2018, Pengidap Stroke Meningkat. Diakses pada 14 Juni 2019, dari https://www.validnews.id/Riskesdas-2018–Pengidap-Stroke-Meningkat—AVF.

Saputro, B. S. (2018). Terapi Wicara pada Pasien Stroke. Diakses pada 14 Juni 2019, dari http://www.yankes.kemkes.go.id/read-terapi-wicara-pada-pasien-stroke-5006.html.

Tinggalkan komentar